Langsung ke konten utama

Teks Narasi


Dia
Irna adalah nama panggilanku, perempuan berdarah Aceh yang tinggal di salah satu kota besar di pulau Jawa. Seorang siswi SMA yang pernah merasakan pahitnya cinta seperti remaja pada umumnya. Berawal dari perkenalan singkat di salah satu acara antarsekolah, berlanjut menjadi pertemanan yang lebih dalam sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Hubungan kami berjalan selama tiga tahun. Setiap pulang sekolah dia selalu menjemputku, padahal jarak sekolah kami lumayan jauh. Keluargaku dan keluarganya sudah saling kenal. Aku pernah ikut keluarganya liburan ke Jogja dan Bali, dia juga pernah ikut keluargaku liburan ke rumah nenekku. Saat itu aku merasa sangat bahagia dan semua terasa sangat indah.
Aku senang bisa kenal dia. Namun, hubungan kami berbalik ketika dia mulai bersikap aneh. Dia yang awalnya sangat perhatian berubah cuek dan mudah marah. Kondisi ini membuat aku bertanya  ada apa sebenarnya, dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. “Apa ada yang salah dari aku sampai membuatnya berubah seperti itu?” Berkali-kali aku bertanya. Tapi jawabannya tetap sama, “Tidak apa, aku sedang lelah saja karena banyak kelas tambahan”. Saat itu memang mendekati Ujian Nasional, karena kami kelas dua belas sekolah mengadakan kegiatan pembelajaran tambahan. Dia menggunakan alasan belajar untuk perubahan sikapnya pada ku saat itu.  Namun aku tidak percaya dengan jawabannya, aku yakin ada yang dia tutupi dariku.
Suatu hari, aku memintanya untuk menemaniku mencari buku, awalnya dia menolak ajakanku, tetapi pada akhirnya dia mengiyakan. Setelah mendapatkan buku yang dicari kami segera masuk mobil dan pulang. Di perjalanan terdengar “bip.. bip..” suara panggilan masuk ke teleponnya , aku menyuruhnya untuk menerima telepon itu, tetapi dia menolak. Tidak berapa lama kemudian teleponnya kembali berdering dan dia tidak juga menerima telepon itu. Aku  mengambil teleponnya dan berniat untuk menerima panggilan masuk itu. Mungkin bagi sebagian orang menganggap kalau sikap seperti itu lancang, tetapi selama ini dia selalu mengizinkanku untuk memegang teleponnya untuk sekadar bermain game atau dia menyuruhku melihat pesan atau menerima telepon yang masuk ketika dia sedang menyetir. Tetapi kali ini dia langsung merampas telepon itu dari tanganku, membuatku semakin curiga sebenarnya siapa yang meneleponnya.
Kami berdua menjadi canggung, sebelumnya dia tidak pernah sekasar itu. Setelah lebih dari 15 menit kami saling diam. Anehnya dia malah menyuruhku menelepon balik nomor yang barusan menghubunginya. Aku pun memanggil nomor itu dan ada yang menerinya. Aku mendengar suara perempuan yang menjawab, tentu saja hal itu membuatku kaget. Perempuan itu bilang, “Kemana saja sih ditelepon nggak jawab?”. Aku langsung menutup panggilan itu dan melihat ke arahnya yang duduk di belakang kemudi mobil sambil menatap lurus ke depan. Aku bertanya siapa perempuan itu, dia pun menjelaskan kalau perempuan itu adalah temannya yang sedang ia dekati. Rupanya dia berpaling dariku, setelah mendengar penjelasannya aku merasa seluruh beban dunia ada di atas pundakku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan, sedih, sakit hati, ingin segera sampai rumah dan menumpahkan semua bulir air mata yang sedang kutahan.
Setelah berdebat panjang semalaman, kami memutuskan untuk berpisah. Iya kami berpisah setelah tiga tahun bersama. Dalam prinsipku, apapun aku maafkan kecuali penghianatan. Tidak tahu mengapa, di mataku penghianatan itu menjijikan. Ketika itu semua memori indah dengannya seperti terputar otomatis di kepalaku yang membuatku semakin sakit hati. Dia menghianatiku yang selama ini ada untuknya, yang menemaninya di ruang operasi ketika ia sakit, yang tidur menunduk di tepi tempat tidur ruang rawat ketika ia sedang masa pemulihan, yang selalu membantu meyakinkan Mamanya ketika ia tidak diizinkan untuk touring keluar kota. Aku selalu ada untuknya dan tidak pernah sekali pun memikirkan pria lain selama bersamanya.
   Dulu aku berpikir kalau aku tidak bisa tanpa ada dia yang selama ini selalu ada untukku. Nyatanya sekarang hidupku tetap berjalan walau tanpa dia. Ternyata saat ini dia satu kampus denganku, beberapa kali aku bertemu dengannya. “Aku tidak akan terbodohi oleh pria seperti itu lagi.” Kata-kata itu terlintas di benakku. Sebagai sebuah pengingat bagi diriku sendiri.
Pelajarannya adalah hubungan lama tidaklah menentukan bahwa dialah yang terbaik. Rasa bosan, lelah dan amarah adalah hal yang biasa bagi sebuah hubungan. Semua hal itu mungkin akan kita rasakan seiring berjalannya waktu. Aku mengambil banyak pelajaran dalam hubunganku dengannya selama ini dan aku sangat berterima kasih. Kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk kehidupanku kelak. Semoga saja menjadi pembelajaran baginya juga.
Semenjak hari itu aku mulai hidupku yang baru tanpa kehadirannya. Melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk menyembuhkan luka di hatiku. Teman-temanku yang mendukung dan melindungiku ialah penguatku dimasa-masa yang sulit itu. Aku meyakinkan diriku akan bisa melalui hari- hari tanpa kehadirannya. Aku membuktikannya bahwa aku bisa walaupun tanpanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teks Deskripsi - Permen Beruang

Pagi ini dosen kami memberikan satu buah permen jelly. Kemasannya terbuat dari plastik berwarna dominan biru dengan tepi atas dan bawah yang bergerigi. Pada bagian tengah kemasan yang transparan, terlihat permen jelly berbentuk beruang berwarna kuning.  Saat kemasan disentuh dan digesek, akan mengeluarkan bunyi “kresek.. kresek..”. Jika sudah dikeluarkan dari kemasannya lalu disentuh, permen jelly ini memiliki tekstur yang halus, kenyal dan sedikit lengket. Aroma dan rasanya seperti buah nanas yang manis dengan sedikit asam, serta terasa kenyal dan lengket di mulut.